Mari Berdendang Ria Menjalin Persaudaraan Antar Chater
Assalamualaikum wr wb, Situs ini hanyalah sebuah persembahan dari saya untuk Room Caffe_Berdendang_Ria,
Dimana tempat saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air berkumpul dari berbagai negara dan daerah.
Saya persembahkan situs ini sebagai wujud peran serta saya dalam menjalin persaudaraan sebangsa dan setanah air di Indonesia dan di belahan bumi lainnya,
dengan harapan akan dapat memberikan kemudahan untuk saling berbagi informasi dari mereka yang punya sedikit ilmu untuk di-share kepada saudaranya yang lain,
atau sekedar bersilaturahim di dunia maya ini.
Meski sangat sederhana sekali, karena ini pertama kali saya membuat situs yang tentu masih banyak kekurangannya,
Harapan saya utama, adanya feedback dari saudara-saudara para chater, kakak kakak admin Room Caffe Berdendang Ria khususnya, kritik dan saran, yang bisa kita diskusikan bersama untuk perkembangan situs ini.
Mari bersama kita bersama berkumpul berdendang ria sambil menjalin persaudaraan dan berbagi insfiransi.Siapa saja bebas turut serta meramaikan site ini dengan tulisan, cerita, gambar, puisi dll.
Untuk partisipasi sumbangan tulisan gambar/pic atau apapun asal sopan untuk di muat di site ini silahkan dikirimkan ke :
caffe_berdendang@yahoo.co.uk , Wassalamu`alaikum wr wb, by: Meni_Geulisss
Buat buah hati kita yang tercinta
"Menyambut Peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2004, saya buka =
kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para orang tua"
Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia =
Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi
itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah
lembut saya tanyakan kepada Dika:
"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal
demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang
tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil
testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa,
ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 -
160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak
lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis
yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat
kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya
berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dikapun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja"
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu
saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga
saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan
waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca
buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu
luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah
dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar
sekolah.
Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan
bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku =
..."
Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan
sesuatu"
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu.
Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, Seperti
apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi
kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa
harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri
koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang,
tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang
tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka
bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya
inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana.
Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya.
Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai
foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang
dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dikapun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya
untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap
kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun
akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang
telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang
tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak
tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau
menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan
untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak
membuat kesalahan yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang
....."
Dikapun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan
yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal
yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang
diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting,
bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.
Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan
Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",
Dikapun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar,
paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku
mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai
manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya
sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau
perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang
tua kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari
........"
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "
Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan
memeluk adikku"
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya
sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya
tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada
anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak
adil atau pilih kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari
....."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata
"tersenyum"
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya
senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan
wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam
melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap
hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku...."
Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang
bagus"
Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih
nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan.
Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau
Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti
laki-laki. Sedangkan Le dari kata "Tole", kependekan dari kata
"Kontole" yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya merasa
bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan
sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo"
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa
Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling"
kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak
Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To
Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise" sebuah seruan
yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan
Pilihan". Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya
karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.
Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah
polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga
kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang
tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para
ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.
Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2004,
saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu
berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang bijaksana.
kulihat embun menghalangi pancaran wajahmu
tak terbiasa kudapati terdiam mendura
apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
sekilas kalau mata ingin berbagi cerita
kudatang sahabat bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa ...
dekapkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
di depan sana cahya kecil 'tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
... menghadapinya ...
sekali jumpa kau mengeluh kuatkah bertahan
satu persatu jalinan kawat beranjak menjauh
kudatang sahabat bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa ...
dekapkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
di depan sana cahya kecil 'tuk membantu
tak hilang arah kita berjalan
... menghadapinya ...
dekapkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
di depan sana cahya kecil 'tuk membantu
tak hilang arah kita berjalan
... menghadapinya ...
tak hilang setelah kita menjalaninya
... menghadapinya ... (usah kau lara sendiri)
Ini bukan pepesan kosong.
Carut marutnya permasalahan bangsa saat ini diakui bermuasal dari komunitas terkecil yang ada di masyarakat, yaitu keluarga.
Hal ini tercermin dari rendahnya kepedulian dan komitmen tentang : kualitas sebuah keluarga.
Bahkan keluarga sebagai salah satu elemen bangsa, sudah mengidap infantilisme dan psikopati yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan efektif normal dan selalu menjadi problem bagi yang lain.
Apalagi sudah menjadi rahasia umum cukup banyak eksekutif maupun sosok publik yang karirnya cemerlang, tapi keluarganya 'banyak',
tidak harmonis.
Ada kasus PIL atau WIL.
Dan tampaknya pemerintah menganggap permasalahan ini sudah sangat serius.
Buktina, menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional yang
jatuh pada 29 Juni,'peringatan' yang disampaikan lumayan menyeramkan.
Alhasil, solusi yang ditawarkan tak ada pilihan lain kecuali: Back to basic.
Kembali ke keluarga.
Iseng ajah kebetulan ketemu seorang momi yang suaminya menjabat abdi negara. Ketemu nga senggaja disebuah rumah sakit elit terkenal Singapur Medicine.
Ngapain di sini tante ? "periksa kesehatan " jawab sang momi santai, kelihatan mah sehat dandanan juga medis punya "oke! ".:D
Tanya dikit masalah calpres yang sedang rame di bicarain publik.
Eh tante kira kira sapa calpres kita kali ini ?
" Kita liat aja nanti ", jawabna lagi sambil senyum.
Hmm... kita liat aja nanti...sementara rakyat kelabakan pada kampanye milih ini milih itu.
Pemilihan resmi tgl 5 juli, calon baru mo di umumin tgl 2 juni, asyikk *dadakan euy...
Emang enak di bikin mudeng:D
Trus kalo emang udah terprogram sang capres kenapa kudu hambur2in uang sekian milyard buat kampanye dan tetek bengeknya?.
Kalau ngak gitu kan ngak rame lagipula udah jadi semacam gengsi kan disorot dunia kampanye itu harus ada. urusan formil lah.
wach...hebat nian tapi ngaa faham ach. *mudeng.
Emang gitu urusan politik, kita disuguhi tontonan sang pemain yang seolah saling bertempur, saling menghujat, saling menjatuhkan. untuk memperebutkan kursi singgasana President. *jegerrrrrrrr
Asal tau aja gak ada dalam kamus politik bermusuhan kekal dalam arti yang sesungguhnya. justru yang ada sebenarnya mereka saling mendukung. Kita lihat aja ntar siapapun presidentnya yang jelas sistem pemerintahan nga akan berubah.semua dah terprogram dah terencana rapi dan akan tetap berjalan sesuai plan.
Dan yang tadinya sang pemain yang tadinya berperan sebagai musuh yang saling bersaing akan kita saksikan mereka saling berangkulan berpelukan saling mendukung *selamat
Ufsss...
Jangan dengerin omongan si Mon gi namanya gi iseng aja :D
Truss Mon mo pilih sapa ?
Alhamdulillah lom kebagian hak pilih :).
Banyak orang pandai menyarankan agar kita memiliki kepercayaan diri yang
kuat. Pertanyaannya adalah diri yang manakah yang patut kita percayai?
Apakah panca indera kita? Padahal kejituan panca indera seringkali tak
lebih tumpul dari ujung pena yang patah. Apakah tubuh fisik kita? Padahal
sejalan dengan lajunya usia, kekuatan tubuh memuai seperti lilin terpanasi.
Ataukah pikiran kita? Padahal keunggulan pikiran tak lebih luas dari
setetes air di samudera ilmu. Atau mungkin perasaan kita? Padahal ketajaman
perasaan seringkali tak mampu menjawab persoalan logika. Lalu diri yang
manakah yang patut kita percayai?
Semestinya kita tak memecah-belah diri menjadi berkeping-keping seperti
itu. Diri adalah diri yang menyatukan semua pecahan-pecahan diri yang kita
ciptakan sendiri. Kesatuan itulah yang disebut dengan integritas. Dan hanya
sebuah kekuatan dari dalam diri yang paling dalamlah yang mampu merengkuh
menyatukan kita. Diri itulah yang patut di percayai, karena ia mampu
menggenggam kekuatan fisik, keunggulan pikiran dan kehalusan budi .
Seekor serigala yang sedang berlari mengikuti aroma domba jantan tiba-tiba
melambatkan langkahnya dan bergerak penuh kewaspadaan.
Tak jauh dari tempatnya berdiri nampak sepuluh orang sedang duduk
mengelilingi api unggun. Beberapa meter dari tenda mereka ada ratusan domba dan sapi sedang tertidur.
Serigala itu menempelkan tubuhnya di tanah dan bersembunyi.
Ia merasa orang-orang ini tengah merencanakan sesuatu.
"Kita harus melenyapkan Yusuf," kata seorang dari mereka.
"Kalian tau, Yusuf lebih dicintai ayah dari pada kita semua."
Yang lain menengahi, "Begini saja. Kita tak perlu membunuhnya. Masukkan
saja dia ke dasar sumur supaya dipungut musafir."
"Tapi apa yang harus kita katakan pada ayah?" sambung yang lain.
"Bilang saja ia dimakan serigala!"
Mendengar namanya disebut-sebut, serigala sadar dirinya dalam bahaya.
Segera ia berlari, namun terlambat, kaki belakangnya terperosok ke dalam
jerat yang sangat kuat. Serigala menangis.
Udara pecah oleh suara lolongan dan jeritan.
Segalanya terjadi begitu cepat.
Kesepuluh orang itu memukuli dan mengikat serigala, lalu memasukkannya ke
kerangkeng. Setelah melumuri darah domba pada mulut dan cakarnya, mereka membawa
serigala ini pada Ya'qub, sambil berkata, "Ayah, serigala ini sering
memakan ternak kita. Ia juga yang menerkam Yusuf!"
Dengan hati yang pilu, Ya'qub berkata, "Hai serigala, ini pakaian Yusuf."
Anak-anak membawanya padaku dan berkata kamulah yang menerkamnya."
Serigala memandangi Ya'qub memohon belas kasihan.
Ya'qub yang bijaksana berkata, "Aku mengerti apa yang kau rasakan.
Bagaimana mungkin kau menerkam Yusuf sementara pakaiannya masih utuh. Aku
tau ini semua adalah muslihat anak-anakku sendiri."
Serigala membatin, "Aku adalah serigala asing yang datang dari Mesir untuk
mencari adikku. Sedangkan anak-anakmu malah menghilangkan saudaranya
sendiri. Jadi siapakah sebenarnya serigala itu? Aku, ataukah anak-anakmu
wahai tuanku yang mulia?"
Apa yang dikatakan serigala itu benar.
Seperti dikemukakan penulis Titus Maccius Plautus, "Manusia adalah
serigala bagi manusia lain" Serigala sering dilukiskan sebagai hewan licik, tamak dan rakus. Padahal sebenarnya tidak demikian. Serigala hanya makan sekali seminggu, kemudian berpuasa 6 hari berikutnya.
Serigala hanya makan secukup perutnya, dan tak pernah menimbun harta
seperti manusia. Serigala memakan domba dan kambing, tapi tak pernah makan serigala lain. Mereka hidup berkasih sayang dalam komunitas yang penuh keharmonisan.
Kelemahan serigala adalah ketidakmampuan mereka menyembunyikan taring dan
cakarnya dengan senyuman seperti yang dilakukan manusia.
Dengan berbagai teknik impression management, manusia menyembunyikan watak
serigala yang mereka miliki dibalik safari, jas, dasi, serta saung dan
kopiah yang mereka kenakan untuk bersujud di masjid.
Fenomena ini mungkin dapat menjelaskan mengapa Indonesia yang mayoritas
Muslim terbesar juga merupakan negeri paling korup sedunia.
Indonesia kini tengah menempatkan diri sebagai salah satu negri termiskin
di dunia. Bayangkan 1 orang Indonesia kini menanggung beban utang lebih dari Rp. 6 juta. Tapi kita masih menerima komitmen CGI untuk utang baru senilai US$ 3,14 Miliar! Padahal pengalaman membuktikan 30% utang kita mengalir ke kantong para "serigala" berbaju safari. Tak heran, Menteri Kwik Kian Gie merasa tak yakin bahwa utang kali ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal.
Persoalan korupsi sebenarnya berkaitan dengan 2 hal.
Pertama, dengan sistem hukum di Indonesia.
Cina yang bersama Vietnam dan Indonesia dikenal sebagai surganya koruptor,
menerapkan hukuman mati. Ini berbeda dengan kita yang menyelesaikan korupsi dengan lobby politik. Pemerintahan kita juga menciptakan banyak dana non bujeter yang tak jelas akuntabilitasnya seperti dana Bulog. Di Kalimantan Timur, gubernurnya memiliki dana non bujeter 1,3 M per tahun. Tapi yang lebih menggusarkan si gubernur adalah dana yang dimiliki Syaukani. Bayangkan, Bupati Kutai ini memiliki dana taktis Rp. 100 Milyar pertahun!
Kedua - dan ini jauh lebih mendasar - adalah persoalan manusia.
Banyak orang yang berwatak serigala, yang memiliki mentalitas kelangkaan
(scarcity mentality). Mereka selalu merasa kekurangan.
Merekalah orang-orang kaya yang takut miskin.
Ini yang membuat rumus korupsi di Indonesia berbeda dengan negara lain.
Di Malaysia, rumus korupsi adalah : "Bagikan dulu untuk rakyat, nanti
sisanya baru kita korupsi". Sementara rumus kita adalah, "Bagi-bagi dulu diantara pejabat, sisanya baru buat rakyat." Tak heran banyak pejabat yang kekayaannya melangit, sementara kemiskinan rakyat amat menyedihkan.
Membenahi sistem hukum relatif lebih mudah.
Yang diperlukan cuma kemauan politik.
Membenahi SDM jauh lebih sulit, tapi akan menghasilkan perubahan yang
lebih mendasar. Akar korupsi terletak pada PARADIGMA orang tentang kekuasaan.
Selama kekuasaan masih dilihat sebagai rezeki dan bukan sebagai amanah,
selama itu pula korupsi tak mungkin dapat diberantas.
Sumber: Kisah Serigala & Utang Luar Negeri oleh Arvan Pradiansyah, Dosen FISIP UI & Pengamat Manajemen SDM
Persahabatan merupakan suatu hubungan yang sangat unik.
Adakalanya keberadaan seorang sahabat memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh keluarga sendiri.
Namun dalam bersahabat kita perlu waspada karena tidak semua persahabatan memberi dampak yang positif, karena ada juga yang memberi dampak yang buruk, bahkan merusak.
Jadi, bagaimana kita menjalin persahabatan yang dapat memberi dampak yang positif dalam hidup kita?
Dan apakah unsur-unsur persahabatan yang sehat?
( Yang tau silahkan jawab ).
Penulis terkenal bernama Les Parrott III berkata bahwa menggunakan waktu untuk menjalin persahabatan lebih bermanfaat bagi kesejahteraan kita dibandingkan hal-hal lainnya.
Ia menyatakan juga bahwa riset menunjukkan "mengabaikan persahabatan tidak hanya mengurangi kualitas hidup Anda, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan." Parrott mengatakan bahwa persahabatan dapat mengurangi risiko timbulnya penyakit.
( Bener gaa yachh ? )
Persahabatan bisa merupakan sebuah cermin yang di dalamnya kita bisa melihat diri kita sendiri dan mengetahui, melalui pemusatan perhatian pada sahabat kita, apa yang perlu kita lakukan agar kita menjadi lebih manusiawi.
Bagi saya persahabatanlah yang membuat dunia berputar. Saya menghargai kawan-kawan saya; saya tahu mereka akan menerima saya sebagaimana adanya dengan segala kesalahan dan kekurangan dan semangat saya, tetapi saya pun menerima mereka dengan kasih yang sama.
Yang saya maksudkan bukan penerimaan yang sifatnya membolehkan segala sesuatu sehingga saya tidak akan pernah menunjukkan apa yang sebenarnya salah. Ada rasa tanggung jawab tertentu di dalam persahabatan seperti dalam hubungan-hubungan yang lain.
Misalnya saling menghargai privaci masing masing, saling menjaga rahasia sahabat bila memang diperlukan karena adakalanya kita bisa saling care, terbuka namun tentu juga harus ada batas tertentu dimana kita harus memahami saat ada sesuatu yang sekiranya ada sesuatu hal yang gaa bisa kita paksakan sahabat harus selalu selalu bercerita pada kita tentang apa yang dialami dan dirasakannya.
( gaa enak kan klo dipaksain gitu ).
Dalam persahabatan yang terpenting adalah rasa kebersamaan, rasa saling melindungi, saling memahami, dan saling menghargai.
Saya mempunyai banyak sahabat dari berbagai kalangan dan berbagai usia, bahkan saya lebih menyukai bersahabat dengan orang orang diatas usia saya, namun saya juga terbiasa selektip dalam menilai karakter sahabat sahabat saya hingga saya bisa memahami siapa yang bisa saya percayai dan siapa yang dengannya saya hanya berbagi ala kadarnya ( berteman biasa aja ).
Dan jika persahabatan saya rasakan sama sekali tidak bermanfaat, atau jika
saya merasa bahwa sahabat itu berusaha mengubah diri saya, barangkali untuk sementara mundur dulu, untuk lebih memahaminya dan memikirkan apa yang diinginkan dari saya, bila ternyata tidak sesuai dengan pemikiran saya disini saya akan memutuskan *say good bye aja :).
Karena bagi saya sangat sulit bersahabat dengan orang yang menganggap dirinya selalu paling tau, karena itu adalah semacam manipulasi.
Memang keadaan itu mungkin tidak jahat, tetapi toh bersifat merusak, karena Akar manipulasi adalah kesombongan, menganggap dirinya lebih tau, lebih pintar, hingga merasa mempunyai hak untuk mengendalikan orang lain. Manipulasi bukan merupakan dasar bagi persahabatan atau bagi pengertian yang sesungguhnya tentang kodrat manusia.
Saya sendiri ingin dihargai privacy saya dan ingin dianggap sama dengan sahabat saya dalam pemikiran.
Meskipun saya menyadari tidak akan ada orang yang sama persis dengan sahabatnya, tapi setidaknya kita bisa saling berusaha memahami hingga persahabatan bisa terus berlangsung.
Ada saat-saatnya dalam persahabatan kebutuhan seorang lebih besar daripada kebutuhan sahabatnya, tetapi kemudian keadaan berbalik kebutuhan orang lain itulah yang lebih besar.
Disinilah hubungan timbal balik itu di butuhkan, dan itulah yang membuat persahabatan tetap berlangsung.
Hubungan timbal balik bisa terjadi antara orang-orang yang sangat berbeda usia dan sifatnya.
Inilah yang mungkin saya lebih menyukai bersahabat dengan orang diatas usia saya yang dengannya saya walaupun berbeda usia sering kali ada kecocokan ide dan kesamaan pikiran tentang berbagai persoalan.
Hingga bagi saya sahabat tidak harus seseorang yang sebaya, atau satu sekolah.
Persahabatan memang membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan memahami.
Tapi saya juga punya prinsip untuk tidak mengantungkan perasaan diatas nama persahabatan. Bukan saya tidak punya perasaan tapi bagi saya sendiri saya harus tau dimana saya menempatkan perasaan itu, agar tidak mempengaruhi aktifitas kita sehari hari. Masa iya kita turut sedih dengan satu persoalan sahabat kita lalu menjadikan kita bete stress, hingga ahirnya merugikan kesehatan dan aktifitas kita. Lebih baik mencari jalan keluarnya namun tetap dalam pemikiran yang wajar :D.
Sadar atau tidak, setiap orang memerlukan sahabat dalam hidupnya.
Sahabat bisa menjadi lebih dari saudara karena kedekatan kita kepada mereka.
Tetapi sahabat juga bisa menjadi bumerang bagi kita jika kita tidak bisa menjaga persahabatan itu sendiri.
Dan saya tidak akan pernah bergantung hanya pada seorang sahabat, karena saya mengetahui bahwa jikalau saya benar-benar dalam keadaan terjepit belum tentu saya bisa mengandalkan yang seorang itu saja, harus ada sahabat lain yang dapat saya hubungi kapan saja, bukan untuk hal-hal yang remeh, jika ada alasan yang akan mereka disponible.